| Mengapa Kita Harus Menulis? |
|
|
| Ditulis Oleh Mr Admin | |
| Friday, 01 August 2008 | |
|
Mengapa Kita Harus Menulis? ( Menangkap Ruh Surat Al `Alaq 1-5 ) Habiburrahman El Shirazy Penulis Novel Ayat-ayat CintaSebelum Anda melakukan hampir segalanya dalam hidup Anda, baik sadar maupun tidak, Anda akan bertanya pada diri Anda tentang pertanyaan penting ini, "Apa manfaatnya bagiku?" Bobbi DePorter MAHAD-ABUBAKAR.COM Seorang muslim sejati, setiap kali ia membaca dan mentadabburi dengan sungguh-sungguh wahyu yang pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. akan sampai pada sebuah kesadaran bahwa menulis dan membaca itu penting. Menulis dan membaca adalah salah satu ruh terpenting diturunkannya Al Quran. Sasterawan besar dan mufassir kontemporer dari Mesir, Sayyid Quthub, dalam karya fenomenalnya, Fi Dzilaalil Qur`an mengatakankan bahwa dalam surat Al `Alaq ayat 1-5 tersebut secara gamblang menjelaskan hakekat pengajaran, atau, proses pemberian ilmu pengetahuan oleh Tuhan kepada manusia. "Bacalah dan Tuhanmu Maha Pemurah. Yang mengajarkan manusia dengan qalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya." Bahwa diantara bentuk kemahapemurahan Allah adalah Dia mengajarkan ilmu pengetahuan kepada manusia, ilmu pengetahuan yang tidak diketahui manusia dengan perantaraan qalam. Qalam, secara bahasa berarti pena, alat yang digunakan menulis. Sementara ahli tafsir menafsirkan bahwa maksud qalam di sini adalah tulis-baca. Kenapa dengan yang dipilih sebagai perantaraan mengajar qalam, atau pena? Sayyid Quthub dalam Dzilal-nya menulis, Karena pena telah dan terus terbukti menjadi piranti pengajaran yang paling luas dan paling dalam pengaruhnya bagi kehidupan manusia. Kenyataan ini, pada saat itu (saat wahyu pertama turun, pen.) tidaklah sejelas seperti yang kita rasakan sekarang dalam kehidupan manusia. Akan tetapi Allah SWT telah mengetahui nilai pena. Maka Dia mengisyaratkannya dalam detik pertama risalah terakhir bagi umat manusia diturunkan. Pahalah saat itu Rasul yang dipercaya mengemban risalah bukanlah seorang yang bisa menulis dengan pena. Ya, sejak detik wahyu pertama turun, Allah SWT telah memberikan kunci utama untuk menguasai peradaban di atas muka bumi ini. Kunci itu adalah iqra` (membaca) dan `allama bil qalam (menulis). Sejarah membuktikan, maju mundurnya peradaban suatu bangsa di muka bumi ini sangat dipengaruhi oleh tingkat minat tulis-baca masyarakatnya. Semakin tinggi minat tulis-baca suatu masyarakat maka akan semakin maju cara berpikir mereka. Semakin tinggi kemampuan menulis masyarakat suatu bangsa maka pola pikir mereka akan rapi dan terstruktur. Kreativitas mereka akan semakin berkembang dan menemukan arah yang jelas. Pada akhirnya karya-karya yang membangun dan membuat gemilang peradaban mereka silih berganti dilahirkan. Umat yang memiliki surat Al `Alaq ini mengalami puncak kegemilangan peradabannya saat minat tulis-bacanya sampai pada titik yang menakjubkan. Yaitu tatkala mereka benar-benar mengambil spirit lima ayat pertama surat Al `Alaq tersebut. Dan mengalami kemunduran pada saat kondisi minat baca-tulis ummat ini berada dalam titik yang memprihatinkan. Kemajuan teknologi saat ini boleh dikatakan berpijak pada warisan intelektual yang ditinggalkan oleh ulama dan ilmuan muslim abad pertengahan. Kita pun sekarang dengan mudah bisa membaca hadits, fiqh, tafsir, ilmu Al Quran dan lain sebagainya karena adanya kitab-kitab rujukan yang ditulis ulama dahulu dengan tetesan keringat dan kucuran darah. Saat ini, negara yang mendapat predikat negara maju adalah negara yang memiliki masyarakat yang tinggi minat baca dan kemampuan menulisnya. Dan negara yang digolongkan terbelakang adalah negara yang memiliki masyarakat yang tidak sadar akan pentingnya membaca dan menulis. Masyarakat yang gagap dalam membaca dan menulis. Bahkan masyarakat yang belum melek baca-tulis. Ironisnya mayoritas negara yang demikian sebagian besar penduduknya muslim, yang sekali lagi, surat Al `Alaq 1-5 berkali-kali mereka baca dan mereka hafal di luar kepala. Padahal, membaca dan menulis, dan khususnya menulis, selain sangat mempengaruhi maju-mundurnya sebuah negara, juga sangat bermanfaat bagi sang penulis itu sendiri. Seorang psikolog dan peneliti ternama Amerika, James W. Pennebeker, setelah melakukan penelitian selama lima belas tahun menemukan kenyataan penting bahwa ternyata menulis bisa menangkal stress. Bahkan menulis dengan pikiran dan perasaan terdalam dapat meningkatkan fungsi kekebalan tubuh. Hasil penelitiannya tersebut ia tuangkan dalam bukunya yang berjudul: Opening Up: The Healing Power of Expessing Emotions. Manfaat lain menulis, menurut Pennebeker, antara lain:
Masih tentang manfaat menulis bagi kesehatan, seorang penulis dari Maroko, Fatima Mernisi, dalam pendahuluan bukunya berjudul: Women`s Rebellion and Islamic Memory, menyatakan bahwa sangat bermanfaat meningkatkan aktivitas sel dan menjaga kesegaran kulit. Ia menulis, Usahakan menulis setiap hari. Niscaya, kulit anda akan menjadi segar kembali akibat kandungan manfaatnya yang luar biasa! Dari saat anda bangun menulis meningkatkan aktivitas sel. Itu manfaat untuk pribadi sang penulis. Adapun manfaat menulis bagi dakwah, maka serta merta kita akan diingatkan oleh perjalanan dakwah Rasulullah Saw. Diantara usaha dakwah Rasulullah saw. Kepada masyarakat Internasional di luar Jazirah Arab adalah dakwah dengan tulisan. Bahwa setelah Perjanjian Hudaibiyah, Rasulullah saw. Mengirimkan surat ajakan masuk Islam kepada raja-raja disekitar jazirah Arab. Termasuk kepada penguasa dua imperium terbesar di muka bumi saat itu. Heraklius, Kaisar Romawi dan Kisra, Raja Persia. Surat Rasulullah saw. itu masih bisa kita baca sampai sekarang. Terabadikan dalam kitab-kitab tarikh. Dari hal ini kita bisa mengambil satu pelajaran bahwa berdakwah bil qalam (dengan pena) sama pentingnya dengan berdakwah bil lisan (dengan lisan). Bahkan terkadang jangkauan pena lebih luas dari lisan. Dalam alam global sekarang ini, dakwah bil qalam menjadi keniscayaan yang tidak boleh ditinggalkan. Syaikh Muhammad Al Ghazali, seorang ulama, pemikir, dan penulis besar dari Mesir pernah berkata: "Khudzil fikrah qabla an ta`khudzukal fikrah!" (Ambillah sebuah ide sebelum kamu diambil oleh ide orang lain!). Dalam kalimatnya yang singkat itu, Syaikh Muhammad Al Ghazali mewarning kita agar aktif dan proaktif menyebarkan ide dan pemikiran-pemikiran Islami, pemikiran-pemikiran yang membangun, ke tengah-tengah masyarakat. Jangan sampai terlambat, apalagi diam saja tidak berbuat apa-apa. Sebab jika terlambat atau diam maka kita dan masyarakat kita akan dipaksa untuk mengkonsumsi pemikiran "orang lain" yang bisa jadi beracun dan bertentangan dengan Islam. Kita tentu maklum bahwa semua produk budaya asal mulanya adalah sebuah ide yang dituangkan di atas kertas. Lirik dan syair sebuah lagu yang didengdangkan oleh seorang penyanyi di radio atau layar kaca dimulai dari susunan huruf di atas kertas. Demikian juga bunyi iklan, bahkan film dan sinetron. Semuanya bermula dari sebuah tulisan. Jika tulisan itu baik maka akan menggerakkan manusia dalam kebaikan. Dan sebaliknya jika tulisan itu tidak baik maka sangat berpotensi menggerakkan manusia pada ketidakbaikan. Film yang baik diawali oleh naskah skenario yang baik. Film yang baik menanamkan nilai kebaikan. Film yang rusak bermula dari naskah skenario yang tidak beres, yang isinya merusak. Film yang tidak bertanggung jawab membawa virus kerusakan yang sangat membahayakan umat manusia. Kerusakan moral dewasa ini, diantaranya disebabkan oleh film dan tayangan televisi yang tidak bertanggung jawab. Karena itu, tidak berlebihan jika kita simpulkan bahwa kondisi baik dan buruknya suatu masyarakat, diantaranya, dikarenakan tulisan-tulisan yang beredar di tengah-tengah masyarakat itu. Sebab, memang setiap kata dalam sebuah tulisan ada sihirnya. Disinilah menulis ide, pemikiran dan karya yang bertanggung jawab menjadi sangat penting bagi siapa saja yang merasa terpanggil untuk dakwah dan memperbaiki keadaan umat dan negeri tercinta ini. Mari kita baca kembali surat Al `Alaq 1-5. Kita ambil cahaya dan ruhnya. Kita teguhkan kesadaran kita untuk membiasakan menulis dan membaca. Membaca dan menulis. Menulis dan membaca. Keduanya tidak bisa dipisah. Dan kita kawal budaya mulia ini dengan menyebut asma Allah. Bismillah.
Ma`had Abu Bakar Ash Shiddiq UMS, 31 Maret 2005 Dimohon tidak menyebarkan artikel ini untuk tujuan bisnis oriented. (Red) |
|
| Pemutakhiran Terakhir ( Friday, 15 May 2009 ) |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|











