| MENYALAKAN INSPIRASI DI UJUNG PENA |
|
|
| Ditulis Oleh Mr Admin | |
| Friday, 01 August 2008 | |
MENYALAKAN INSPIRASI DI UJUNG PENAHabiburrahman El Shirazy Penulis Novel Ayat-ayat Cinta Tentang Inspirasi atau Ilham
MAHAD-ABUBAKAR.COM Inspirasi, dalam bahasa Arab disebut ilham. Biasanya ilham lazim digunakan untuk menyebut petunjuk Tuhan yang timbul di hati. Di sini, bedanya dengan wahyu; ilham atau inspirasi adalah petunjuk dari Tuhan untuk semua makhluk Allah sedangkan wahyu hanya khusus untuk para nabi dan rasul. Bisa juga ilham berarti pikiran yang timbul dari hati. Bagi seorang penulis ilham adalah sesuatu yang menggerakkan hati untuk mencipta karya. Aswendo mendefinisikan ilham atau inspirasi adalah letikan yang membuat seorang pengarang tergugah. Inspirasi untuk meletikkan munculnya ide seringkali menjadi problem bagi penulis pemula. Dalam durus idhafiyyah, - pelajaran tambahan berupa pelajaran menulis kreatif,- yang saya sampaikan pada siswa-siswa MAKN MAN I Surakarta seminggu sekali setiap habis pelajaran Al Lughah Al `Arabiyyah Lin Nasyi`in, keluhan mereka seringkali seputar tidak menyalanya inspirasi. Ide yang tidak muncul. Seringkali mereka mengeluh, “Mau nulis apa, bingung Ustadz?”
“Nulis sih ingin Ustadz, tapi masalahnya mencari inspirasinya itu lho susah banget!” Masih ada yang beranggapan bahwa ilham bagi penulis itu seperti wahyu bagi nabi. Tidak sembarang orang yang dapat ilham dan tidak sembarang waktu. Ilham hanya muncul pada saat-saat tertentu saja. Benarkah demikian?
Belajar dari Beberapa Pengalaman Penulis Terkemuka
Pengalaman para penulis terkemuka di dunia membuktikan bahwa ilham bisa diusahakan kehadirannya. Ernest Hemingway, sastrawan Amerika peraih Hadiah Nobel itu misalnya, pergi berlayar sendirian untuk mengail inspirasi dan menyiapkan batinnya. Hasilnya buku The Old Man and The Sea. Gerson Poyk banyak menemukan ilhamnya di rumah sakit, di stasiun kereta api. Ia tidak diam saja di rumahnya. Untuk menjaring inspirasi ia bahkan harus tidur di stasiun. Lain lagi dengan Gola Gong, ia biasa mendapatkan inspirasi dari berita koran. Ia sangat jeli membaca berita. Novelnya Kupu-kupu Pelangi, idenya ia peroleh setelah membaca berita tentang “anak jalanan yang kedapatan menstruasi pertama langsung dicomot ‘mami’ untuk dijadikan pelacur jalanan." A.A. Navis, sastrawan dari Padang, sering mendapatkan ilham waktu jongkok di Kakus. Gara-gara sering berlama-lama jongkok di kakus ia sampai menderita ambaien. Agatha Christie suka menunggu ilham sambil berendam di bak mandi air hangat sambil mengupas apel. Dalam bedah novel Ayat Ayat Cinta di Fakultas Teknik UGM Ramadhan yang lalu, Ustadz M. Fauzil Adhim mengaku seringkali ia mendapatkan inspirasi bagi bahan tulisannya saat membaca Al Quran. Bahkan ada permulaan kalimat dalam tulisannya yang terilhami oleh sebuah ayat. Bagi Ali Muakhir, bahkan sobekan koran sekalipun bisa melahirkan inspirasi menulis. Cerpennya Sekeping Logam Cinta yang meraih Juara I dalam ajang Lomba Cipta Cerpen Remaja, idenya ia dapatkan dari sebuah sobekan koran. Dan, masih banyak fakta yang menunjukkan bahwa ide bisa diusahakan kehadirannya. Bisa datang dari mana saja dan kapan saja. Pengalaman para penulis di atas bisa jadikan pelajaran. Sekali lagi: inspirasi bisa diusahakan kehadirannya di ujung pena! Dan itu dengan cara menguatkan azam kita dan memaksimalkan pancaindera kita terhadap keadaan di sekeliling kita. Bambang Trim dalam buku terbarunya Saya Bermimpi Menulis Buku mengibaratkan inspirasi dan ide sebagai ikan-ikan beraneka yang bertebaran di lautan mahaluas. Kitalah yang mesti mengailnya. Dan memang diperlukan kemauan keras di samping kepiawaian untuk mengailnya. Jangan sampai ikan (ilham) yang membahayakan Anda dan manusia lainnya yang tertangkap. Namun tidak kita pungkiri, terkadang memang inspirasi itu datang begitu saja tanpa kita susah-susah mengusahannya. Bisa jadi ketika sedang santai di siang hari hendak tidur tiba-tiba berkelebat ilham untuk menulis sesuatu. Saat itu yang diperlukan adalah kesiapan batin kita menerima ilham `ngeget' tersebut. Jangan menyia-nyiakannya sebab itu adalah juga karunia Allah yang sangat mahal harganya.
Komitmen : Sumber Kekuatan Inspirasi
Komitmen pada jalan yang kita yakini kebenarannya serta komitmen menyampaikannya pada orang lain ternyata bisa menjadi sumber kekuatan inspirasi untuk menulis. Benarlah M. Fauzil Adhim ketika berkata dalam Dunia Kata –nya: "Apabila hatimu dipenuhi oleh kepedihan, keinginan yang kuat untuk menunjukkan orang lain kepada jalan yang kamu yakini kebaikannya, maka pikiranmu akan hidup. Gagasan bermunculan dan inisiatif akan saling bersusulan. Apa pun yang kamu lihat, akan selalu mengalirkan inspirasi ke dalam jiwamu sesuai dengan apa yang menjadi kegelisahanmu." Kegelisahan Hujjatul Islam Imam Al Ghazali melihat keangkuhan cara berpikir para filosof yang sedemikian mengagungkan akal yang menurutnya kurang pas membuatnya menulis karya yang sangat terkenal sampai sekarang yaitu: Tahafutul Falasifah (Runtuhnya Para Filosof). Dan pada abad berikutnya ketika Ibnu Rusyd menemukan hal-hal yang ia anggap janggal dalam Tahafutul Falasifahnya Al Ghazali, ia lantas menulis tanggapan yang sangat masyhur di seluruh dunia sampai sekarang yaitu Tahafutut Tahafut (Runtuhnya Kitab Tahafut). Belakangan ini ada seorang Doktor Filsafat di Mesir yang menulis buku membela tulisan Al Ghazali dan balik mengkritisi tulisan Ibnu Rusyd. Buku berjudul Tahafutu Tahafutit Tahafut (Runtuhnya Kitab Tahafutut Tahafut). Ketika Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah melihat fenomena banyaknya kaum muslimin yang mencampuradukkan ajaran Ahlul Kitab (Yahudi dan Nasrani) dengan ajaran Islam tergugahlah kesadarannya untuk menyampaikan kebenaran yang ia yakini. Maka ditulislahlah salah satu karyanya, sebuah kitab yang terkenal sampai sekarang, yaitu Iqtidha`ush Shirath Al Mustaqiim. Begitu juga dengan Syaikh Dr. Yusuf Al Qaradhawi, ulama besar jebolan Al Azhar University ini menulis karya-karyanya karena komitmennya pada kebenaran yang ia yakini. Tatkala melihat fenomena ketidakberesan dalam memandang, memahami menempatkan geliat kebangkitan umat Islam, ia langsung menulis buku yang luar biasa isinya, yaitu Ash Shahwah Islamiyyah Baina Al Juhud Wat Tatharruf. Dan baru-baru ini dia mengeluarkan buku yang mendapat pujian dari para sejarawan yaitu Taarikhuna Al Muftara `Alaih (Sejarah Kita yang Tertuduh). Dalam buku ini beliau mengkritisi siapapun yang tidak obyektif dalam membaca sejarah kaum muslimin. Termasuk para sejarawan muslim klasik tak luput dari kritikannya. Dan siapa yang tidak kenal WS. Rendra? Sastrawan yang baru saja menginjak umur 70 tahun ini dikenal dengan puisi-puisinya yang sangat komitmen memperjuangkan apa yang ia yakini. Jika kita teliti dengan seksama banyak karya besar yang lahir dari kekuatan yang bernama komitmen. Dan banyak dari karya itu, yang mempengaruhi perjalanan sejarah manusia.
Cinta : Sumber Inspirasi yang Luar Biasa
Jika Anda bertanya pada ulama dan cendekiawan muslim yang dapat dipercaya tentang kitab apa yang paling bisa disebut karya monumental umat Muhammad saw., maka tak akan ragu mereka akan menjawab kitab Al Jaami` As Shahiih, yang dikenal dengan kitab Shahih Al Bukhari , yang ditulis oleh Imam Al Bukhari. Para ulama bahkan sepakat bahwa kitab Shahih Al Bukhari yang hanya menghimpun hadits-hadits shahih ini adalah kitab paling shahih setelah Al Quran di muka bumi ini. Tak ada yang meragukan kecuali para orientalis dan para pengikut orientalis yang selalu berpurbasangka pada sumber-sumber ajaran Islam. Yang mungkin menarik bagi kita, para penulis muda, untuk kita tanyakan adalah apa yang menginpirasikan seorang Al Bukhari bisa menulis karya yang sedemikian monumental? Di dalam kitab Hadyu Al Saari, Ibnu Hajar Asqalani menuliskan tentang apa yang menginspirasikan Imam Bukhari menuliskan kitab Shahih Bukhari. Ibnu Hajar berkata, "Kami riwayatkan dengan sanad yang dapat dipercaya, dari Muhammad bin Sulaiman bin Faris, ia berkata : Aku mendengar Al Bukhari berkata, 'Aku bermimpi bertemu Nabi, seolah aku berdiri di hadapan beliau. Aku memegang kipas yang aku gunakan untuk membersih kotoran dari beliau. Lalu aku tanyakan pada seorang ulama yang ahli menafsirkan mimpi. Ia menjelaskan kepadaku, 'Engkau akan membersihkan kedustaan dari beliau. Itulah yang menggugahku untuk menulis Al Jaami` As Shahiih'." Karena kecintaannya pada Rasulullah saw. yang luar biasa Imam Al Bukhari sampai diimpeni oleh Rasulullah saw.. Kecintaannya yang luar biasa pada Rasulullah saw. menggugahnya untuk membersihkan hadits-hadits Rasulullah saw. dari noda-noda kedustaan. Kecintaan Al Bukhari yang luar biasa pada Rasul menggerakkannya untuk menyusun kitab Al Jaami` Ash Shahiih dengan kesabaran luar biasa yang belum bisa ditandingi oleh penulis manapun sampai sekarang. Lebih dari 16 tahun Imam Al Bukhari harus mengais dan mengumpulkan hadits-hadits yang berserakan di pelbagai negeri. Ia harus melakukan perjalanan ribuan kilo untuk itu. Lalu ia harus menapisnya dengan ketelitian yang tiada tandingnya. Dari enam ratus ribu hadits yang ia hafal, ia menapiskan menjadi empat ribuan hadits. Dan saat menulisnyapun ia melakukan penyucian jiwa yang sangat susah dicari semisalnya. Tentang caranya menulis kitab Al Jaami` As Shahiihnya, Imam Al Bukhari bercerita, sebagaimana dituturkan Ibnu Hajar dalam Hadyu Al Saari, "Aku tidak menulis satu haditspun dalam kitab As Shahiih kecuali aku mandi dulu dan shalat dua rakaat." Apa yang menginspirasikan pada Imam Bukhari untuk melakukan itu semua? Kekuatan apakah yang mendorongnya untuk melakukan pekerjaan yang luar biasa itu? Jawabannya adalah CINTA. Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Dalam sejarahnya cinta telah menginspirasikan lahirnya karya yang tiada terhitung jumlahnya. Ribuan karya, baik itu syair, draman, cerpen, novel, bahkan film telah lahir dari percikan cahaya cinta. Termasuk novel saya: AYAT AYAT CINTA. Wa akhiiran, selamat menulis dengan pena yang menyala!
Ma`had Abu Bakar Ash Shiddiq UMS, 2/12/05, 20:56 Dimohon tidak menyebarkan artikel ini untuk tujuan bisnis oriented. (Red)
Daftar Bacaan 1. Hadyu Al Saari, Imam Ibnu Hajar Al Asqalaani, Dar Al Kutub, Beirut, Cet.III, 2000 2. Iqtidha`ush Shirath Al Mustaqiim, Ibnu Taimiyyah, Maktabah Thalibul Ilmi, Riyadh, 1999 3. Menulis Nggak Perlu Bakat, Among Kurnia Ebo, MU:3 Book, Jakarta. 4. Dunia Kata, M. Fauzil Adhim, Dar Mizan, Bandung, 2000 5. Saya Bermimpi Menulis Buku, Bambang Trim, Kolbu MQS, Bandung, 2005 6. Proses Kreatif Penulis Hebat, Gola Gong dkk., Dar Mizan, Bandung, 2003 7. Buku Sakti Menulis Fiksi, Annida, Jakarta, 2004 |
|
| Pemutakhiran Terakhir ( Friday, 15 May 2009 ) |
| < Sebelumnya |
|---|











